Part 2. Kita dalam arah yang sama
Part 2: Tentang Komitmen Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah di antara kita. Bukan berubah menjadi buruk, hanya… terasa lebih dalam. Aku mulai menyadari kalau hubungan ini bukan lagi sekadar tentang rasa nyaman atau kebiasaan saling mengabari. Ada hati yang mulai benar-benar dijaga. Ada perasaan yang diam-diam mulai takut kehilangan. Dan mungkin, itu alasan kenapa kata “komitmen” terasa menakutkan sekaligus menenangkan. Pagi itu, pesan darimu muncul lebih awal dari biasanya. “Jangan lupa sarapan.” Sederhana. Sangat sederhana. Tapi entah kenapa, setelah percakapan semalam, pesan kecil seperti itu terasa berbeda. Ada perhatian yang tidak dibuat-buat. Ada usaha untuk tetap hadir, bahkan lewat hal-hal kecil. Aku tersenyum kecil sebelum membalas, “Kamu juga.” Hari-hari setelahnya berjalan perlahan. Kita mulai terbiasa saling cerita lebih banyak—tentang kesibukan, rasa lelah, bahkan hal-hal yang sebelumnya selalu disimpan sendiri. Dan dari semua obrolan itu, aku mulai sadar sat...