Postingan

Part 2. Kita dalam arah yang sama

  Part 2: Tentang Komitmen Setelah malam itu, ada sesuatu yang berubah di antara kita. Bukan berubah menjadi buruk, hanya… terasa lebih dalam. Aku mulai menyadari kalau hubungan ini bukan lagi sekadar tentang rasa nyaman atau kebiasaan saling mengabari. Ada hati yang mulai benar-benar dijaga. Ada perasaan yang diam-diam mulai takut kehilangan. Dan mungkin, itu alasan kenapa kata “komitmen” terasa menakutkan sekaligus menenangkan. Pagi itu, pesan darimu muncul lebih awal dari biasanya. “Jangan lupa sarapan.” Sederhana. Sangat sederhana. Tapi entah kenapa, setelah percakapan semalam, pesan kecil seperti itu terasa berbeda. Ada perhatian yang tidak dibuat-buat. Ada usaha untuk tetap hadir, bahkan lewat hal-hal kecil. Aku tersenyum kecil sebelum membalas, “Kamu juga.” Hari-hari setelahnya berjalan perlahan. Kita mulai terbiasa saling cerita lebih banyak—tentang kesibukan, rasa lelah, bahkan hal-hal yang sebelumnya selalu disimpan sendiri. Dan dari semua obrolan itu, aku mulai sadar sat...

Part 1. Kita dalam Arah yang Sama

  Part 1: Awal yang Sederhana (Akhir Part 1) Hari-hari setelah itu berjalan dengan tenang. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada drama yang melelahkan. Hanya dua orang yang perlahan saling membiasakan diri. Kadang kita tertawa sampai lupa waktu. Kadang juga saling diam karena sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Tapi anehnya, bahkan dalam diam pun, aku tetap merasa dekat denganmu. Sampai suatu malam, aku terbangun karena suara notifikasi dari ponselku. Pesan darimu. “Aku boleh jujur nggak?” Aku yang masih setengah sadar langsung membuka chat itu. Entah kenapa, dadaku tiba-tiba terasa tidak tenang. “Jujur apa?” balasku pelan. Beberapa menit tidak ada jawaban. Aku menunggu sambil menatap layar ponsel yang gelap. Jam menunjukkan pukul 00.47. Di luar, hujan turun pelan, membuat malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Lalu pesanmu masuk. “Sebenernya aku takut.” Aku mengernyit kecil. “Takut kenapa?” Kali ini lebih lama. Sangat lama. Sampai aku berpikir mungkin kamu ketiduran. Na...

Kita, dalam Arah yang Sama part 1

Gambar
  Part 1: Awal yang Sederhana (Lanjutan) Sejak malam itu, tidak ada yang benar-benar berubah setidaknya di permukaan. Kita masih seperti biasa. Masih saling mengirim pesan di sela-sela kesibukan. Masih saling mengingatkan hal-hal kecil. Masih tertawa di obrolan yang kadang tidak jelas arahnya. Tapi entah kenapa, rasanya jadi berbeda. Ada sesuatu yang lebih dijaga. Ada perasaan yang mulai hati-hati. Seolah tanpa kita sadari, hubungan ini pelan-pelan menemukan bentuknya sendiri. Aku mulai memperhatikan hal-hal yang dulu mungkin aku abaikan. Tentang bagaimana kamu selalu bilang, “Udah makan belum?” meskipun kamu sendiri sering telat makan. Tentang bagaimana kamu mengingat hal-hal kecil tentangku hal yang bahkan aku sendiri sering lupa. Dan tentang bagaimana kamu tetap ada, bahkan saat aku sedang tidak ingin bercerita. Kamu tidak memaksa. Tidak menuntut. Hanya… tetap tinggal. Dan anehnya, justru itu yang membuatku perlahan jatuh lebih dalam. Suatu sore, aku bertanya padamu, “Kenapa sih...

Kita, dalam Arah yang Sama Part 1

Gambar
  Part 1: Awal yang Sederhana Aku tidak pernah tahu sejak kapan semuanya terasa berbeda. Awalnya, kita hanya dua orang yang sering bertukar cerita. Tentang hari yang melelahkan, tentang hal-hal kecil yang kadang tidak penting, tapi selalu terasa ingin dibagikan. Tidak ada yang istimewa di awal, bahkan kita tidak pernah benar-benar merencanakan untuk sedekat ini. Aku masih ingat pertama kali kamu berkata, “Kalau capek, cerita aja. Nggak harus kuat sendiri.” Kalimat sederhana, tapi entah kenapa menetap lebih lama dari yang seharusnya. Sejak itu, aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Bukan karena kamu selalu ada, tapi karena kamu selalu mencoba ada. Dan di dunia yang serba sibuk ini, usaha kecil seperti itu terasa begitu berarti. Kita bukan pasangan yang selalu punya waktu setiap saat. Kita juga bukan yang selalu romantis dengan kata-kata manis. Kadang, obrolan kita hanya tentang hal sepele kamu makan apa hari ini, aku lagi sibuk apa ataupun kamu sibuk apa, ada juga sekadar mengingat...

GUNUNG BERAPI

Gambar
sumber: https://www.google.com/imgres?q=gunung%20berapi&imgurl=https%3A%2F%2Fbpbd.salatiga.go.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2021%2F01%2F202207041756-main.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fbpbd.salatiga.go.id%2F2021%2F01%2F15%2Fgunung-api%2F&docid=oFC4nM4GV8mAAM&tbnid=U3k3y5WJC4n7sM&vet=12ahUKEwi5wKzehbKNAxWZXWwGHeikMmIQM3oECHAQAA..i&w=1024&h=576&hcb=2&ved=2ahUKEwi5wKzehbKNAxWZXWwGHeikMmIQM3oECHAQAA 1.       Struktur Bumi dan Hubungannya dengan Gunung Berapi Bumi terdiri dari beberapa lapisan: kerak, mantel, dan inti. Aktivitas gunung berapi sangat dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik di kerak bumi. Indonesia, yang berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, memiliki ratusan gunung berapi aktif. Hal ini menjadikan masyarakat Indonesia sangat akrab dengan fenomena letusan gunung berapi, baik dalam kehidupan sehari-hari, tradisi, hingga cerita rakyat.   2.       Gunung Berapi: Dekat de...

smk modern islamic school

  1.     Visi SMK Modern Islamic School “Unggul dalam prestasi dan IPTEK berlandaskan akhlakul karimah.”   2.     Misi SMK Modern Islamic School a.     Mewujudkan perkembangan kegiatan akademik dan non akademik yang kreatif, inovatif, kritis dengan memaksimalkan potensi dan bakat peserta didik. b.     Mewujudkan pembelajaran berbasis multimedia yang aktif, islami, kreatif dan menyenangkan. c.     Menjadikan Al-Quran dan As Sunnah sebagai dasar membangun kreativitas keahlian berpikir kritis dan analitis. d.     Mewujudkan pengembangan generasi yang menjunjung tinggi dan berakhlakul karimah.

"Mengurai Kesalahpahaman di Tengah Jarak"

Gambar
  "Mengurai Kesalahpahaman di Tengah Jarak" Mira dan Andi sudah menjalin hubungan cukup lama, namun beberapa bulan terakhir mereka harus menjalani hubungan jarak jauh karena pekerjaan. Biasanya mereka selalu menjaga komunikasi, namun kesalahpahaman kecil bisa membuat jarak terasa lebih menyiksa. Pagi itu, Mira mengirim pesan pada Andi. “Sayang, aku mau pergi sama teman-teman, ya. Nanti aku kabari lagi!” Andi melihat pesan itu sekilas saat bangun, tapi merasa terburu-buru untuk pergi bekerja. Dia berpikir untuk membalasnya nanti saja setelah sampai di kantor. Pikirnya, Mira pasti akan mengabarinya jika sudah di tempat tujuan. Namun, seiring berjalannya hari, Andi tenggelam dalam pekerjaannya dan tak menyadari waktu berlalu begitu cepat. Baru sekitar jam empat sore, saat ia akhirnya bisa membuka pesan, ia terkejut menemukan beberapa pesan tambahan dari Mira. “Sayang, aku sudah sampai nih, hehe.” “Lagi apa, kok nggak ada kabar sama sekali?” “Hmm, apa kamu sibuk banget, ya?” “Aku...