End Part 2. Kita dalam arah yang sama
Part 2: Tentang Komitmen (Akhir Part 2) Hari-hari setelah itu terasa lebih hangat. Kita mulai terbiasa hadir dalam keseharian satu sama lain, meski hanya lewat layar ponsel dan pesan-pesan sederhana. Anehnya, hubungan ini terasa tenang. Tidak selalu penuh kata manis, tapi cukup untuk membuatku merasa dihargai. Dan mungkin, memang seperti itu bentuk cinta yang dewasa—tidak berisik, tapi tetap terasa. Aku mulai terbiasa mendengar ceritamu setiap malam. Tentang pekerjaanmu yang melelahkan, tentang hal-hal kecil yang membuatmu kesal, bahkan tentang mimpi-mimpi yang selama ini jarang kamu ceritakan pada orang lain. Begitu juga kamu. Kamu jadi orang pertama yang tahu saat hariku buruk. Orang pertama yang sadar kalau jawabanku mulai pendek-pendek karena lelah. Dan orang pertama yang selalu bilang, “Kalau capek, istirahat dulu. Jangan dipendem sendiri.” Semua terasa berjalan baik. Sampai suatu hari, aku mulai sadar kalau kita ternyata sangat berbeda. Kamu adalah orang yang selalu ingin m...