Part 2. Kita dalam arah yang sama
Part 2: Tentang Komitmen (Lanjutan)
Sejak percakapan malam itu, aku mulai banyak memikirkan tentang hubungan ini.
Tentang bagaimana semuanya berjalan begitu pelan, tapi terasa nyata.
Tidak ada janji-janji berlebihan. Tidak ada kata-kata manis setiap waktu. Namun justru itu yang membuatku nyaman. Karena bersamamu, aku tidak merasa sedang menjalani hubungan yang dipaksakan.
Kita seperti dua orang yang sama-sama lelah dengan dunia, lalu dipertemukan untuk saling menenangkan.
Dan mungkin, dari situlah semuanya tumbuh.
Suatu malam, saat aku sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan, notifikasi darimu muncul.
“Masih belum tidur?”
Aku melihat jam di layar laptop. Hampir pukul satu malam.
“Belum, masih ada yang harus diselesaiin,” balasku.
Tidak lama kemudian kamu membalas lagi.
“Jangan terlalu dipaksa ya. Aku tahu kamu kuat, tapi kamu juga harus istirahat.”
Kalimat sederhana itu lagi.
Tapi anehnya, selalu berhasil membuat hatiku menghangat.
Aku tersenyum kecil sambil memandangi layar ponsel. Kadang aku berpikir, mungkin bentuk perhatian paling tulus memang hadir dari hal-hal kecil yang sering dianggap biasa.
Aku mengetik balasan singkat.
“Kamu juga jangan sering begadang.”
Beberapa detik kemudian, pesan darimu masuk lagi.
“Aku lagi belajar buat menjaga seseorang dengan benar.”
Dadaku terasa sesak seketika.
Karena tanpa kamu sadari, aku juga sedang belajar hal yang sama.
Belajar membuka hati lagi.
Belajar percaya lagi.
Dan belajar bahwa hubungan tidak selalu harus sempurna untuk bisa diperjuangkan.
Namun di balik semua rasa hangat itu, tetap ada ketakutan yang diam-diam tumbuh.
Takut kalau suatu hari semuanya berubah.
Takut kalau rasa nyaman ini hanya sementara.
Atau lebih buruknya… takut kalau kita ternyata hanya saling suka pada versi terbaik masing-masing.
Mungkin memang begitu cara hati bekerja. Semakin dalam rasa yang tumbuh, semakin besar pula rasa takut kehilangan.
Dan malam itu, ketakutan itu tiba-tiba muncul begitu saja saat kamu berkata,
“Aku harap kita nggak cuma bertahan sekarang.”
Aku mengernyit kecil membaca pesanmu.
“Maksudnya?”
Typing…
Lalu hilang.
Typing lagi…
Hilang lagi.
Sampai akhirnya pesan panjang itu terkirim.
“Aku takut kalau nanti keadaan berubah. Takut kalau kesibukan bikin kita pelan-pelan asing. Takut kalau suatu saat kita capek dan akhirnya milih pergi.”
Aku membaca setiap kalimatmu perlahan.
Untuk pertama kalinya, aku sadar… ternyata bukan cuma aku yang memikirkan masa depan hubungan ini terlalu jauh.
Dan anehnya, di saat yang sama, aku justru merasa tenang.
Karena setidaknya, kali ini aku tidak sendirian yang takut kehilangan.
Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya membalas,
“Kalau nanti kita sama-sama capek, jangan saling lepas dulu ya. Istirahat sebentar nggak apa-apa, asal jangan berhenti.”
Beberapa menit tidak ada balasan.
Lalu kamu mengirim satu pesan singkat:
“Makanya aku bilang… kayaknya aku memang ketemu rumah di kamu.”
Dan malam itu, tanpa sadar aku tersenyum sendiri.
Namun aku belum tahu…
bahwa semakin nyaman seseorang terasa seperti rumah,
semakin besar pula rasa takut saat mulai ada jarak yang perlahan tumbuh di antara keduanya.
Bersambung…
Komentar
Posting Komentar