Kita, dalam Arah yang Sama

 



Part 1: Awal yang Sederhana

Aku tidak pernah tahu sejak kapan semuanya terasa berbeda.

Awalnya, kita hanya dua orang yang sering bertukar cerita. Tentang hari yang melelahkan, tentang hal-hal kecil yang kadang tidak penting, tapi selalu terasa ingin dibagikan. Tidak ada yang istimewa di awal, bahkan kita tidak pernah benar-benar merencanakan untuk sedekat ini.

Aku masih ingat pertama kali kamu berkata,
“Kalau capek, cerita aja. Nggak harus kuat sendiri.”

Kalimat sederhana, tapi entah kenapa menetap lebih lama dari yang seharusnya.

Sejak itu, aku mulai terbiasa dengan kehadiranmu. Bukan karena kamu selalu ada, tapi karena kamu selalu mencoba ada. Dan di dunia yang serba sibuk ini, usaha kecil seperti itu terasa begitu berarti.

Kita bukan pasangan yang selalu punya waktu setiap saat. Kita juga bukan yang selalu romantis dengan kata-kata manis. Kadang, obrolan kita hanya tentang hal sepele kamu makan apa hari ini, aku lagi sibuk apa ataupun kamu sibuk apa, ada juga sekadar mengingatkan untuk istirahat, bahkan hanya mengirim stiker lucu.

Tapi justru dari hal-hal kecil itu, aku merasa nyaman.

Nyaman yang tidak memaksa.
Nyaman yang tidak berisik.
Nyaman yang membuatku tidak perlu berpura-pura menjadi siapa-siapa.

Sampai akhirnya, di suatu malam yang tidak terlalu istimewa, kamu tiba-tiba berkata,
“Kita jalanin ini dengan serius, ya.”

Jantung yang tidak bisa dikendalikan berdenyut amat lebih cepat dari biasanya. Akupun hanya terdiam cukup lama. Tanpa ada suara yang keluar dari mulut, hanya hembusan nafas yang terdengar amat kencang.

Bukan karena tidak mau, tapi karena aku tahu… kata “serius” bukan hal yang ringan. Itu bukan hanya tentang bersama hari ini, tapi tentang bagaimana kita bertahan di hari-hari yang tidak mudah nanti.

“Aku nggak butuh yang sempurna,” katamu lagi, “aku cuma butuh kamu yang mau tetap di sini.”

Entah kenapa, hatiku terasa hangat sekaligus takut.

Hangat karena akhirnya ada yang memilihku, bukan hanya untuk sementara.
Takut karena aku tahu, mempertahankan itu jauh lebih sulit daripada memulai.

Aku tidak langsung menjawab malam itu. Aku hanya tersenyum, meskipun kamu tidak bisa melihatnya.

Tapi dalam diamku, aku tahu satu hal aku juga ingin mencoba.

Bukan karena semuanya pasti mudah,
tapi karena untuk pertama kalinya,
aku merasa… aku tidak berjalan sendirian.

Dan mungkin, dari semua kemungkinan yang ada,
kita bukan dua orang yang paling sempurna.

Tapi kita adalah dua orang
yang sedang belajar berjalan
ke arah yang sama.

Bersambung…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DNS Lookup Tool

GUNUNG BERAPI

contoh laporan konfigurasi RIP ( Routing Information Protocol )